Jumat, 26 Oktober 2012

Hari Raya Idul Adha adalah Hari Raya Kesetiakawanan Sosial!

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Hanya satu kalimat yang bisa keluar dari bibir ini.. Alhamdulillahirobbil'alamin... Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Sungguh Allah telah memberikan Kenikmatan Kepada Hambanya. Kenikmatan tiada tara. Betapa Indahnya Nikmat yang Allah berikan kepada kita. Beliau masih memberikan kita Nafas, detak jantung, serta aliran darah Agar hamba-hamba-Nya bisa merasakan wanginya Kebersamaan dan Kuatnya tali silaturrahmi di hari Kemenangan ini. Sungguh Kebahagiaan itu tidak dapat di beli. Maka sudah sepantasnya kita mengucapkan puji dan syukur terhadap Allah SWT.
Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha. Sebagaimana lazimnya, setiap hari raya senantiasa diiringi oleh takbir dan tahmid yang menggema. Lantunan takbir dengan suara merdu diiringi dengan tabuhan beduk, serta takbir keliling merupakan nuansa dalam setiap merayakan hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri.
Dengan takbir, setiap manusia diajak untuk melakukan refleksi bahwa tidak ada yang abadi, agung dan besar didunia ini kecuali Allah. Harta kekayaan yang kita miliki tidak berarti dihadapan-Nya.Yang berarti dan bermakna dihadapanNya hanyalah derajat taqwa manusia, bukan pada harta, kekuasaan, atau hal-hal lainnya. Kemaslahatan, kemanusiaan, keadilan tidak bisa dipertukarkan dengan kekuasaan, jabatan dan harta kekayaan.
Kemudian, ucapan tahmid mengajarkan kepada kita untuk berterima kasih atas nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita semua. Karena harta, kekayaan, dan jabatan yang kita miliki perlu kita syukuri bersama. Caranya, dengan memberikan apa yang kita miliki terhadap fakir-miskin dan yang berhak lainnya. Karena itulah, Idul Adha sesungguhnya memiliki dimensi solidaritas kemanusiaan yang sangat dalam artinya bagi kita semua.
Bentuk solidaritas kemanusiaan ini dengan tegas diwujudkan dalam bentuk kurban. Karena itulah, Hari raya Idul Adha seringkali disebut sebagai Hari raya Kurban. Anjuran berkurban ini menunjukkan betapa Islam sangat peduli terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Waktu berkurbanpun ditentukan, yakni mulai dari 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah, (ayyam al-tasyriq).
Penentuan waktu berkurban ini ini sebenarnya bukan untuk membatasi bantuan dan solidaritas kemausiaan kita. Sebab, dalam ayat-ayat lain dijelaskan saling membantu sesama suatu kewajiban bagi segenap umat Islam. Maksud penentuan ini tidak lain agar pada hari raya Idul Adha tidak ada seorangpun yang merasakan kelaparan dan kemiskinan. Tentunya, hal yang demikian itu perlu dilanjutkan sesudah hari raya Idul Adha. Tidak hanya pada hari Raya saja kita membantu sesama tetapi hari lain juga.

AUTHOR : Trialdi

Terimakasih, saat ini anda sedang membaca artikel yang berjudul Hari Raya Idul Adha adalah Hari Raya Kesetiakawanan Sosial!, Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan berguna untuk anda. Jika anda menyukai arkel ini anda bisa mengikutinya melalui google+, Facebook, atau twitter.. Saya menyadari masih memiliki banyak kekurang dalam artikel ini. Silahkan sampaikan kritik dan saran melalui kotak komentar yang disediakan di bawah.. Diperkenankan untuk melakukan sharing dengan mencantumkan sumber, namun Dilarang keras melakukan Penjipkan karena web ini dimonitori oleh DMCA (Digital Milenium Copyright Act)

Top-Read

Kode Smiley Untuk Komentar


:a :b :c :d :e :f :g :h :i :j :k :l :m :n :o :p :q :r :s :t

0 komentar:

Posting Komentar

 
CB Blogger