Hanya satu kalimat yang bisa keluar dari bibir ini..
Alhamdulillahirobbil'alamin... Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta
Alam, Sungguh Allah telah memberikan Kenikmatan Kepada Hambanya.
Kenikmatan tiada tara. Betapa Indahnya Nikmat yang Allah berikan
kepada kita. Beliau masih memberikan kita Nafas, detak jantung, serta
aliran darah Agar hamba-hamba-Nya bisa merasakan wanginya Kebersamaan
dan Kuatnya tali silaturrahmi di hari Kemenangan ini. Sungguh
Kebahagiaan itu tidak dapat di beli. Maka sudah sepantasnya kita
mengucapkan puji dan syukur terhadap Allah SWT.
Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam merayakan Hari Raya Idul
Adha. Sebagaimana lazimnya, setiap hari raya senantiasa diiringi oleh
takbir dan tahmid yang menggema. Lantunan takbir dengan suara merdu
diiringi dengan tabuhan beduk, serta takbir keliling merupakan nuansa
dalam setiap merayakan hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri.
Dengan takbir, setiap manusia diajak untuk melakukan refleksi bahwa
tidak ada yang abadi, agung dan besar didunia ini kecuali Allah.
Harta kekayaan yang kita miliki tidak berarti dihadapan-Nya.Yang
berarti dan bermakna dihadapanNya hanyalah derajat taqwa manusia,
bukan pada harta, kekuasaan, atau hal-hal lainnya. Kemaslahatan,
kemanusiaan, keadilan tidak bisa dipertukarkan dengan kekuasaan,
jabatan dan harta kekayaan.
Kemudian, ucapan tahmid mengajarkan kepada kita untuk berterima kasih
atas nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita semua.
Karena harta, kekayaan, dan jabatan yang kita miliki perlu kita
syukuri bersama. Caranya, dengan memberikan apa yang kita miliki
terhadap fakir-miskin dan yang berhak lainnya. Karena itulah, Idul
Adha sesungguhnya memiliki dimensi solidaritas kemanusiaan yang
sangat dalam artinya bagi kita semua.
Bentuk solidaritas kemanusiaan ini dengan tegas diwujudkan dalam
bentuk kurban. Karena itulah, Hari raya Idul Adha seringkali disebut
sebagai Hari raya Kurban. Anjuran berkurban ini menunjukkan betapa
Islam sangat peduli terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya.
Waktu berkurbanpun ditentukan, yakni mulai dari 10 Dzulhijjah sampai
13 Dzulhijjah, (ayyam al-tasyriq).
Penentuan waktu berkurban ini ini sebenarnya bukan untuk membatasi
bantuan dan solidaritas kemausiaan kita. Sebab, dalam ayat-ayat lain
dijelaskan saling membantu sesama suatu kewajiban bagi segenap umat
Islam. Maksud penentuan ini tidak lain agar pada hari raya Idul Adha
tidak ada seorangpun yang merasakan kelaparan dan kemiskinan.
Tentunya, hal yang demikian itu perlu dilanjutkan sesudah hari raya
Idul Adha. Tidak hanya pada hari Raya saja kita membantu sesama
tetapi hari lain juga.






Terimakasih, saat ini anda sedang membaca artikel yang berjudul 


:a
:b
:c
:d
:e
:f
:g
:h
:i
:j
:k
:l
:m
:n
:o
:p
:q
:r
:s
:t
0 komentar:
Posting Komentar